21 Sep W2 | Heaven’s Authority
REFERENCE BIBLE VERSES
1 Samuel 16:12–13 (TB) | Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi dia di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya
berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.
Matius 28:18–20 (TB) | Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku … Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
OBJECTIVES
Untuk memahami bahwa sebelum kita dapat memengaruhi orang lain, semuanya dimulai dengan mengalami Tuhan.
Untuk memahami bahwa kita perlu memiliki rasa aman dalam diri agar dapat memimpin orang lain yang lebih berkualifikasi daripada kita.
CONTENT
Before Goliath, God Anointed David
- Kemenangan Daud atas Goliat adalah salah satu kisah yang paling terkenal dalam Alkitab. Orang sering merayakan keberanian dan keyakinannya ketika ia menghadapi raksasa tersebut. Namun, dasar sebenarnya dari keyakinan itu ditemukan sebelum pertempuran.
- Dalam 1 Samuel 17:34–37, Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. … Hambamu ini telah memukul mati baik singa maupun beruang, dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu… TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”
- Keberanian Daud tidak muncul secara tiba-tiba di medan perang. Keberanian itu dibangun melalui pengalaman-pengalaman sebelumnya tentang kesetiaan Tuhan. Kemenangan-kemenangan pribadi melawan singa dan beruang mempersiapkannya untuk menghadapi Goliat secara terbuka di hadapan banyak orang.
- Inilah sebabnya urutan pasal-pasal tersebut penting. 1 Samuel 16 terjadi sebelum 1 Samuel 17. Sebelum Daud menghadapi orang Filistin itu, Tuhan telah terlebih dahulu mengurapinya. Sejak hari itu dan seterusnya, Roh TUHAN berkuasa atas Daud. Pengurapan itu bukan sekadar sebuah upacara—pengurapan tersebut merupakan awal dari kehidupan yang dijalani di bawah otoritas dan hadirat Tuhan.
- Keyakinan Daud tidak pernah berakar pada kemampuannya sendiri, usianya yang masih muda, atau keahliannya menggunakan umban. Keyakinannya berakar pada kenyataan bahwa Tuhan telah memanggilnya, mengurapinya, dan berjalan bersamanya. Karena ia telah mengalami Tuhan, ia dapat berdiri dengan keberanian.
Speaking and Leading with Confidence
- Bertahun-tahun kemudian, kita bertemu dengan Daud yang sama dalam suatu musim kehidupan yang sangat berbeda. Ia bukan lagi gembala muda yang menghadapi raksasa. Ia adalah raja yang sedang mempersiapkan pembangunan Bait Suci—sebuah proyek yang jauh melampaui keahlian pribadinya.
- Dalam 1 Tawarikh 22:15–16, Daud berkata kepada Salomo: “Sesungguhnya, ada banyak tukang yang padamu, yakni tukang batu, tukang kayu dan tukang-tukang yang ahli dalam segala macam pekerjaan. Emas, perak, tembaga dan besi tidak terbilang banyaknya. Mulailah bekerja! TUHAN menyertai engkau!”
- Daud memberikan arahan yang jelas kepada orang-orang yang jauh lebih berkualifikasi dan terspesialisasi daripadanya dalam bidang pekerjaan mereka. Ia bukan ahli pemahat batu, pandai emas, atau arsitek. Namun, ia memimpin mereka dengan otoritas yang tenang dan tanpa keraguan.
- Perhatikan 1 Tawarikh 22:18: “Bukankah TUHAN, Allahmu, menyertai kamu? Dan bukankah Ia telah mengaruniakan keamanan kepadamu di segala penjuru? Sebab Ia telah menyerahkan penduduk negeri ini ke dalam tanganku, sehingga negeri ini takluk di hadapan umat-Nya dan di hadapan TUHAN.”
- Keyakinan Daud bukanlah gagasan modern tentang “berpura-puralah sampai kamu berhasil.” Keyakinan itu adalah kepastian yang tenang yang berasal dari bertahun- tahun berjalan bersama Tuhan. Dari pengurapan dalam 1 Samuel 16, melalui pengalaman dengan singa dan beruang, melalui Goliat, hingga bertahun-tahun melarikan diri dari Saul, Daud belajar bahwa Tuhan adalah sumber sejati dari otoritasnya. Para tukang yang terampil bukanlah ancaman baginya—mereka adalah penyediaan Tuhan untuk menggenapi rencana Tuhan.
- Otoritas yang sama telah diberikan kepada kita. Dalam Matius 28:18–20, Yesus menyatakan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya. Kemudian Ia memerintahkan murid-murid-Nya: “Karena itu pergilah…” dan berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa.”
- Karena Yesus memegang segala otoritas, dan karena Ia telah mengutus kita di bawah otoritas tersebut, kita tidak perlu iri kepada mereka yang lebih mampu dalam bidang-bidang tertentu. Kita tidak perlu merasa tidak aman ketika memimpin orang- orang yang lebih terampil daripada kita. Rasa aman kita berakar pada Dia yang telah memanggil kita dan yang tetap menyertai kita.
CONCLUSION
Otoritas dari Surga mengubah segalanya.Sebelum kita dapat melipatgandakan pengaruh, kita harus terlebih dahulu mengalami Tuhan—seperti Daud mengalami-Nya di padang sebelum ia berdiri di hadapan Goliat. Dan ketika kita mengetahui bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita otoritas untuk melakukan pekerjaan-Nya, kita dapat memimpin dengan keyakinan yang tenang, bahkan ketika orang-orang di sekitar kita lebih berbakat dalam bidang-bidang tertentu.
Kita tidak memimpin berdasarkan keunggulan pribadi. Kita memimpin berdasarkan penugasan ilahi. Seperti Daud, kita dapat melihat orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita—baik yang lebih terampil, lebih berpengalaman, maupun lebih berbakat—dan berkata dengan penuh rasa aman: “Mulailah bekerja! TUHAN menyertai engkau.”
Karena otoritas itu bukan milik kita. Otoritas itu milik Surga.
REFLECTION/DISCUSSION QUESTIONS
- Keyakinan Daud ketika menghadapi Goliat dibangun melalui pengalaman-pengalaman pribadinya sebelumnya bersama Tuhan (singa dan beruang). Pengalaman “singa dan beruang” apa yang sudah Tuhan berikan kepada Anda yang dapat menjadi dasar bagi pengaruh yang lebih besar?
- Dalam bidang kehidupan atau pelayanan apa saat ini Anda merasa tidak aman ketika memimpin atau bekerja bersama orang-orang yang tampaknya lebih berkualifikasi daripada Anda? Bagaimana kebenaran dalam Matius 28:18–20 (“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa… Aku menyertai kamu senantiasa”) berbicara kepada rasa tidak aman tersebut?
REFERENCES