REFERENCE BIBLE VERSES
2 Timotius 4:2 (TB) | “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
1 Tesalonika 5:11 (TB) | “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan salingmembangunlah kamu, seperti yang memang kamu lakukan.”
OBJECTIVE
Memahami bagaimana menghadapi dosa dan kesalahan dalam komunitas Kristen melalui kasihdan teguran.
CONTENT
Love and Rebuke
- Definisi kasih yang berlaku dalam budaya sering kali menyamakannya dengan tidak adanya kritik sama sekali, menciptakan lingkungan di mana segala sesuatu yang membuat suasana terasa tidak nyaman atau menghakimi diberi label sebagai tidak mengasihi. Namun, penerimaan pasif terhadap dosa sebenarnya adalah sikap yang paling tidak mengasihi yang dapat kita ambil, karena sikap tersebut meninggalkan seorang saudara atau saudari untuk menghadapi konsekuensi yang merusak dari tindakan mereka sendiri.
- Konflik dan dosa bukanlah sesuatu yang tidak normal dalam komunitas Kristen, tetapi merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Semakin kita sungguh-sungguh mengasihi satu sama lain, semakin banyak waktu yang kita habiskan bersama dalam persekutuan yang nyata, dan semakin kita membuka kehidupan kita satu sama lain, semakin kekurangan, kelemahan, dan dosa kita pasti akan muncul dan terlihat oleh semua orang.
- Teguran yang berakar pada kasih agape adalah tindakan keberanian yang mendalam, yaitu kesediaan untuk mempertaruhkan kenyamanan dalam hubungan demi menyelamatkan seorang saudara dari kehancuran rohani, dengan mengingat bahwa: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut” (Galatia 6:1).
- Kita harus memeriksa hati kita sendiri sebelum memberikan teguran, memastikan bahwa motivasi kita bukanlah merasa diri benar, keinginan untuk mengendalikan, atau menjadikan teguran sebagai cara untuk melampiaskan frustrasi kita sendiri. Sebaliknya, teguran harus berasal dari kesedihan yang murni dan tulus terhadap dosa yang sedang melukai saudara kita, serta dari doa yang dalam dan sungguh-sungguh bagi pemulihannya.
The Practice
- Dasar dari semua koreksi haruslah Firman Tuhan yang tidak berubah. Pendapat atau preferensi kita bukanlah standar, melainkan “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16), sehingga Firman Tuhan menjadi satu-satunya otoritas kita.
- Cara kita menyampaikannya membutuhkan hikmat yang besar, karena tidak setiap situasi membutuhkan pendekatan yang sama. Kita harus dengan berdoa sehingga dapat membedakan kapan harus berbicara dengan berani dan kapan harus menunggu, seberapa keras harus menghadapi seseorang dan seberapa lembut harus membimbingnya, sambil meminta kepada Allah “hikmat yang dari atas” (Yakobus 3:17), yang “pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik.” Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa teguran kita sesuai dengan orangnya, dosanya, dan waktunya.
- Tujuannya tidak pernah untuk memenangkan perdebatan, membuktikan keunggulan kita sendiri, atau menentukan siapa yang harus disalahkan, tetapi selalu untuk membangun orang lain, mendorong pertumbuhan rohaninya, dan dengan kasih memulihkannya kembali kepada persekutuan dengan Allah dan tubuh Kristus, dengan mencari kesembuhannya dan bukan hukumannya.
- Kita harus mengingat bahwa mengubah orang lain adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan kita. Kita dipanggil untuk menyampaikan kebenaran dalam kasih dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya. Paulus sendiri menyerahkan “Himeneus dan Aleksander kepada Iblis, supaya mereka belajar untuk tidak menghujat” (1 Timotius 1:20). Hal ini menunjukkan bahwa bahkan ketika kita menyerahkan seseorang kepada konsekuensi dari tindakannya, kita tetap mempercayai Allah sendiri untuk melakukan pekerjaan pertobatan dan perubahan yang mendalam di dalam hati mereka. Hal ini membebaskan kita dari beban untuk berperan sebagai Roh Kudus dalam kehidupan mereka.
CONCLUSION
Mengkonfrontasi dosa adalah tindakan kasih, bukan sebuah pernbuatan jahat. Ketika kita benar-benar peduli kepada seseorang, kita tidak dapat tetap diam ketika mereka sedang menyakiti dirimereka sendiri. Konflik dan kelemahan adalah hal yang normal dalam setiap komunitas yang dekat, tetapi semuanya menjadi kesempatan untuk bertumbuh ketika kita menanganinya dengankerendahan hati dan kelemahlembutan.
Kita harus menyampaikan kebenaran, tetapi selalu dengan tujuan untuk memulihkan, bukanmenghukum. Ingatlah, kita tidak dapat mengubah siapa pun; hanya Allah yang dapat mengubahhati seseorang. Tugas kita hanyalah menyampaikan kebenaran dalam kasih dan berdoa, sambilmempercayai Allah untuk melakukan sisanya.
Ketika teguran dilakukan dengan cara seperti ini, teguran tersebut menyembuhkan danmemperkuat gereja, sebagaimana Kristus dengan penuh kasih menghadapi dosa kita untukmenyelamatkan kita.
REFLECTION/DISCUSSION QUESTIONS
- Kapan kamu pernah harus memberikan atau menerima teguran yang sulit, dan apa yang membantumu melihatnya sebagai suatu tindakan kasih dan bukan penghakiman pada saat itu?
- Apakah kamu lebih kesulitan untuk tetap diam atau justru terlalu berusaha untuk mengubah seseorang? Bagaimana mempercayakan hasilnya kepada Allah membebaskanmu dari pergumulan tersebut?
REFERENCES