REFERENCE BIBLE VERSES
Lukas 6:27-28 (TB) | “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilahmusuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah untuk orang yang mencaci kamu.
Roma 5:8 (TB) | Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristustelah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
OBJECTIVE
Untuk belajar bagaimana kita dapat mengasihi mereka yang telah menyakiti kita danmenumbuhkan kasih seperti Kristus dalam prosesnya.
CONTENT
Love the Unlovely
- Allah tidak menunggu kita menjadi sempurna sebelum Dia mengasihi kita. Roma 5:8 mengingatkan kita bahwa Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Jika Allah mengasihi kita dalam keadaan kita yang terburuk, kita dipanggil untuk memberikan kasih karunia yang sama, yang tidak layak kita terima, kepada mereka yang telah melukai kita, bukan karena mereka layak menerimanya, tetapi karena kita telah menerimanya dengan cuma-cuma.
- Mudah untuk berfokus pada kesalahan orang lain sementara mengabaikan kesalahan kita sendiri. Kenyataannya, kita semua pernah menyakiti seseorang pada suatu titik, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Kita pernah menjadi “Yudas” dalam cerita orang lain. Menyadari hal ini merendahkan hati kita dan menghilangkan sikap merasa diri benar yang sering kali menjadi akar mengapa kita sulit untuk mengampuni.
- Ketika kita melihat orang yang menyakiti kita sebagaimana Allah melihatnya, perspektif kita berubah. Mereka bukan sekadar penjahat dalam kisah pribadi kita; mereka adalah anak yang dikasihi Allah, yang memiliki kelemahan, hancur, dan membutuhkan belas kasihan. Sama seperti Bapa memandang kita dengan belas kasihan meskipun kita berdosa, kita diundang untuk memandang musuh-musuh kita dengan pandangan kasih yang sama.
- Menyimpan kepahitan sering kali berasal dari kesombongan dan penghakiman. Tetapi ketika kita benar-benar memahami bahwa kita sendiri adalah “orang yang tidak layak dikasihi”, namun sepenuhnya diterima oleh Allah, menjadi hampir mustahil bagi kita untuk menahan pengampunan. Hati yang direndahkan oleh kebutuhannya akan belas kasihan secara alami menjadi hati yang memberikan belas kasihan kepada orang lain.
Spiritual Commitment
- Kasih sayang yang tulus mungkin tidak ada terhadap orang yang telah mengkhianati kita, dan kita tidak dapat mengontrol emosi tersebut untuk muncul. Kasih alkitabiah (agape) terutama adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan sadar untuk bertindak demi kepentingan terbaik orang lain. Yesus memerintahkan kita untuk berbuat baik dan memberkati, bukan sekadar untuk merasa baik. Ini adalah langkah-langkah praktis dan dapat dilakukan yang dapat kita ambil terlepas dari emosi kita
- Mengasihi “Yudas” kita bukanlah peristiwa satu kali. Rasa sakit karena pengkhianatan muncul kembali, kenangan terasa menyakitkan, dan luka-luka lama kembali terbuka. Setiap hari kita harus secara sadar memilih untuk menyerahkan kemarahan kita kepada Allah dan kembali berkomitmen untuk mengasihi orang tersebut. Pilihan yang terus-menerus ini sama pentingnya bagi perjalanan rohani kita seperti doa atau membaca Kitab Suci.
- Kita tidak dapat menghasilkan kasih yang tulus dan bertahan lama dengan kekuatan kita sendiri. Usaha manusia kita tidak cukup untuk panggilan yang begitu tinggi. Ketika kita meminta Roh Kudus untuk menumbuhkan empati, dan pada akhirnya kasih yang alami di dalam hati kita, kita mengundang campur tangan ilahi. Ini adalah pekerjaan supernatural yang mengubah sifat alami kita.
- Perintah untuk mengasihi musuh kita pada akhirnya adalah sebuah perjanjian antara kita dan Allah. Ketika kita memilih untuk bertindak dalam kasih terhadap orang yang mengkhianati kita, kita mematahkan benteng-benteng rohani berupa kepahitan, kebencian, dan perpecahan. Ketaatan ini melemahkan cengkeraman musuh atas hati kita dan melindungi kita dari racun untuk tidak mau mengampuni. Ini bukan sekadar latihan dalam hubungan, melainkan sebuah peperangan rohani yang mendalam yang membawa kita kepada kebebasan dan kedamaian untuk diri kita sendiri.
CONCLUSION
Mengasihi “Yudas” kita mungkin merupakan salah satu perintah paling sulit yang Yesus berikankepada kita, tetapi itu juga merupakan salah satu yang paling membebaskan. Ini bukan tentangmengabaikan rasa sakit kita, tetapi tentang memilih untuk melihat musuh kita melalui mataAllah, sama seperti Dia melihat kita dalam dosa kita dan tetap mengasihi kita. Kasih inimembutuhkan penyerahan diri setiap hari dan pertolongan Roh Kudus, bukan kekuatan kitasendiri. Ketika kita memilih untuk mengasihi orang yang tidak layak dikasihi, kita mematahkankepahitan dan melangkah ke dalam kebebasan yang Kristus telah berikan dengan mati untuk kita. Pada akhirnya, mengasihi “Yudas” kita bukanlah tentang mereka, melainkan tentang menjadisemakin serupa dengan Yesus, yang mengasihi kita ketika kita masih berdosa.
REFLECTION/DISCUSSION QUESTIONS
- Pikirkan orang yang paling menyakiti Anda. Apakah Anda juga pernah menjadi “Yudas” bagi orang lain? Bagaimana menyadari kebutuhan Anda sendiri akan kasih karunia mengubah cara Anda memandang orang yang telah melukai Anda?
- Bagaimana Anda dapat menunjukkan kasih kepada mereka yang sulit untuk dikasihi?
REFERENCES