REFERENCE BIBLE VERSES
Amsal 3:5-6 | Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
OBJECTIVE
Untuk memahami bahwa menjadi “excellence” adalah sebuah perjalanan, bukan sekadar tujuan; dan perjalanan ini sering kali melibatkan tantangan, penundaan, dan ketidakpastian, jadi kita perlu percaya kepada Tuhan.
CONTENT
TRUSTING GOD IN THE JOURNEY OF EXCELLENCE
- Kita semua menghadapi tantangan setiap hari sejak kita masih muda, dan tanpa disadari, menyelesaikan tantangan ini telah memacu kita menuju “excellence”. Meskipun terkadang kita menganggap “excellence” sebagai sebuah tujuan, tapi hal itu juga merupakan perjalanan menuju keserupaan dengan Kristus. Perjalanan ini tidak diragukan lagi melibatkan cobaan dan rintangan yang terkadang membuat kita mempertanyakan apakah kita berada di jalan yang benar atau apakah Tuhan benar-benar bekerja dalam situasi kita ini. Di waktu lain, tantangan ini akan menyebabkan penundaan dan ketidakpastian, membuat kita ragu dan cemas, dan akhirnya menjatuhkan kita. Iblis suka menggunakan kesempatan ini untuk mengganggu iman kita dan menanamkan keraguan yang berkepanjangan di dalam diri kita, yang berpotensi menghalangi kita mencapai potensi maksimal kita dalam hidup.
- Namun, sebagai anak-anak-Nya dan orang percaya, kita memiliki hak istimewa untuk bersandar kepada-Nya dan menyerahkan rencana, keinginan, dan ambisi kita kepada-Nya, mengetahui jalan-jalan-Nya lebih tinggi dari jalan kita. Ini berarti kita tidak memiliki harapan pada hasil atau waktu tertentu, tetapi kita memiliki harapan di dalam Yesus, yang akan melaksanakan rencana-Nya yang baik sampai akhir. Bersandar pada pengertian-Nya berarti mengakui bahwa pengertian kita sendiri terbatas dan tidak sempurna dan bahwa hikmat Allah lebih unggul. Ini berarti kita tidak memandang keadaan dan tantangan kita saat ini sebagai sesuatu yang final atau ditakdirkan untuk kita. Berserah juga mengharuskan kita untuk melepaskan kebutuhan untuk memiliki semua jawaban dan sebaliknya menempatkan iman kita pada kedaulatan-Nya, percaya bahwa Dia mengatur setiap detail kehidupan kita untuk kebaikan kita yang hakiki.
- Salah satu contoh terbaik tentang “excellence” dalam Alkitab adalah Nuh. Pada saat Ia diminta oleh Allah untuk membuat sebuah perahu, faktanya tidak ada hujan yang turun di Bumi. Meskipun menghadapi tantangan eksternal karena diejek, Nuh tidak bersandar pada pengertiannya sendiri dan sebaliknya menaati dan mempercayai Allah dengan sepenuh hati.
THE REWARD OF TRUSTING GOD
- Ketika kita memilih untuk menaruh kepercayaan penuh kita kepada Tuhan, kita membuka diri kita untuk mengalami kedalaman hikmat, bimbingan, dan penyediaan-Nya dengan cara-cara yang tidak akan pernah dapat kita capai sendiri. Mempercayai Tuhan dalam prosesnya bukan hanya tentang menanggung kesulitan, tetapi tentang secara aktif percaya bahwa Dia sedang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita, bahkan ketika kita belum dapat melihat gambaran lengkapnya (Roma 8:28). Sebagai manusia, kita mendambakan hasil yang segera dan jawaban yang jelas, tetapi Tuhan sering bekerja melalui suatu proses dengan menantang iman kita, memurnikan kita, dan mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya. Seperti Nuh, saat kita menyerahkan kendali kita dan membiarkan Dia mengarahkan langkah-langkah kita, kita kemudian dapat mulai melihat bagaimana rencana-Nya terungkap dengan cara yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan.
- Memupuk kebiasaan untuk mempercayai Tuhan di setiap musim, baik dalam sakit atau sehat, kaya atau miskin, kita mengembangkan rasa damai yang mendalam yang tidak bergantung pada keadaan kita. Filipi 4:7 berbicara tentang "damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal," kedamaian yang menjaga hati dan pikiran kita saat kita percaya kepada-Nya. Kedamaian ini memungkinkan kita untuk menghadapi ketidakpastian dengan iman yang teguh, mengetahui bahwa Tuhan memegang kendali dan bahwa Dia setia untuk menyediakan apa yang kita butuhkan pada waktu yang tepat. Kedamaian dan keamanan ini tidak akan mungkin terjadi jika Tuhan tidak mengizinkan kita untuk melewati tantangan yang sulit. Pada akhirnya, dengan setiap tantangan yang kita atasi bersama dengan Tuhan, keyakinan/iman kita kepada-Nya tumbuh. Alih-alih melihat rintangan sebagai hambatan, kita mulai mengenalinya sebagai peluang untuk persiapan dan pertumbuhan menuju “excellence”. Setiap penundaan, kesulitan, atau momen penantian menjadi kesempatan untuk memperkuat ketahanan rohani kita, menyempurnakan karakter kita, dan menyelaraskan keinginan kita dengan kehendak Tuhan yang sempurna.
- Ketika kita sepenuhnya menerima kebenaran bahwa rencana Tuhan lebih tinggi dan lebih baik daripada rencana kita sendiri, kita dapat percaya dan berserah kepada-Nya, mengetahui bahwa Dia membimbing kita menuju sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita capai sendiri.
REFLECTION/DISCUSSION QUESTIONS
- Dalam bidang kehidupan apa Anda merasa paling sulit untuk menyerahkan kendali kepada Tuhan? Langkah apa yang dapat Anda ambil untuk sepenuhnya memercayai-Nya?
- Bagaimana kita dapat saling menyemangati untuk tetap setia dan memercayai rencana Tuhan, bahkan ketika keadaan tampak mengecewakan? Apa saja janji dalam Kitab Suci yang mengingatkan kita akan kesetiaan Tuhan?
REFERENCES